Scroll untuk baca artikel
Kondangan

8 Adat Pernikahan Minangkabau Penuh Filosofi Hidup

69
×

8 Adat Pernikahan Minangkabau Penuh Filosofi Hidup

Share this article
8 Adat Pernikahan Minangkabau Penuh Filosofi Hidup
adat pernikahan minangkabau

Suku Minang atau Minangkabau yang mencakup wilayah Sumatera Barat, sebagian Riau dan Bengkulu, memiliki tradisi perkawinan yang unik. Sebagai penganut sistem kekerabatan dari jalur ibu atau perempuan, ritual perkawinan Minang bisa berjalan berhari-hari dan melibatkan banyak anggota keluarga. Berikut 8 adat pernikahan Minangkabau yang sakral dan penuh filosofi hidup:

1. Marasek

Dalam tradisi MInangkabau, proses ini merupakan penjajakan. Tidak sembarangan, budaya matrilineal yang dianut suku Minang membuat pihak perempuanlah yang harus mencari dan menghampiri kediaman sang pria. Umumnya tokoh perempuan dari keluarga besar yang dituakanlah yang melakukan penjajakan untuk menentukan pria yang serasi untuk perempuan dari keluarganya. Sebelum ada kesepakatan, ritual ini bisa saja terjadi hingga beberapa kali.

2. Maminang

Ketika sudah ada kesepakatan dari Marasek, maka proses dilanjutkan ke Maminang, yang berarti lamaran. Dalam adat pernikahan Minangkabau, keluarga wanitalah yang mendatangi tempat tinggal calon mempelai lelaki sambil menghantarkan hantaran. Isinya bisa variatif, namun sirih pinanglah yang selalu ada karena bermakna pertemuan indah nan berkesan akan sentiasa diingat selamanya.

3. Batimbang Tando

Prosesi ini masih satu rangkaian dengan Maminang, dimana kedua keluarga saling memberikan tanda mata. Umumnya benda atau pusaka adat seperti kain bahkan keris adat. Hal ini menyimbolkan perjanjian yang mengikat dua calon pengantin maupun keluarganya yang tidak boleh ada pembatalan dari salah satu pihak. Proses bertemunya dua keluarga besar ini melibatkan banyak kerabat, termasuk para tetua.

4. Mahanta Siri

Ritual dilanjutkan dengan calon pengantin mendatangi sesepuh maupun anggota keluarga lain yang dihormati guna meminta izin dan restu. Mahanta sirih juga bermakna pemberitahuan pada anggota keluarga akan rencana pernikahan. Tradisinya, perwakilan dari keluarga perempuan umumnya datang menghantarkan sirih. Sementara perwakilan mempelai pria mengantar daun nipa serta tembakau di dalam selapah.

5. Babako-Babaki

Menjelang dilangsungkannya akad, Bako atau marga ayah pengantin perempuan, memberikan sumbangan sebagai simbol kasih. Dalam adat pernikahan Minangkabau, anak perempuan akan dibawa ke kediaman keluarga besar ayahnya. Selain petuah, bantuan pernikahan juga diberikan oleh keluarga lainnya. Misalnya hantaran adat berisi rangkaian lengkap daun sirih, nasi kuning, serta perhiasan, busana, dan hal-hal untuk calon mempelai.

6. Malam Bainai

Menjelang pernikahan, keluarga perempuan disertai tetua berkumpul di malam hari untuk menumbuk daun inai sebagai pewarna kuku calon pengantin. Prosesnya, mempelai yang memakai suntiang rendah akan diapit oleh 2 gadis berusia sebaya keluar dari peraduan. Dilanjutkan dengan memberikan percikan air yang berasal dari tujuh bunga oleh sanak saudara Prosesi diakhiri dengan memulas kuku dengan inai.

7. Manjapuik Marapuai

Inilah puncak dalam adat pernikahan Minangkabau. Acara dimulai dengan penjemputan pengantin lelaki untuk melaksanakan akad di rumah calon istrinya. Para penjemput membawa serangkaian seserahan, diantaranya sirih lengkap. Ketika sampai, rombongan disambut meriah dengan musik tradisional Minang serta pemuda-pemudi berpakaian adat. Lalu mempelai pria pun diarak ke tempat dilangsungkannya akad.

8. Mamulaangkan Tando

Seusai akad dan sah sebagai suami istri, ritual pasca pernikahan kembali disiapkan. Diawali dengan mengembalikan simbol sebagai bukti ikatan yang baru saja dilaksanakan. Gelar kedewasaan dan kehormatan untuk sang pengantin lelaki lalu diumumkan, kemudian para sesepuh akan mendekatkan kedua kening mempelai. Hal ini menyimbolkan persatuan keduanya.

Selanjutnya berebut nasi kuning yang mengandung harapan akan gotong-royong di antara suami istri. Proses ini diakhiri dengan bermain coki atau sejenis permainan halma, yang berisi doa supaya keduanya bisa saling melepas ego agar tercipta keserasian dalam hubungan pernikahan.

Itulah kedelapan adat pernikahan Minangkabau yang sampai sekarang masih dilestarikan. Meski bisa prosesnya cukup rumit dan bisa berlangsung berhari-hari, namun semua ritual tersebut sarat filosofi kehidupan. Diantaranya adalah petuah untuk kedua mempelai dalam menjalani kehidupan baru dalam berumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *